Rabu, 19 Agustus 2009

botchan terus ke madilog



Botchan...hmmm aku tidak bisa berhenti. sederhana saja ceritanya tentang seorang anak yang dianggap sangat nakal dan selalu dianggap tidak akan jadi apa-apa bahkan oleh kedua orang tuanya sendiri, tapi tidak bagi Kiyo. Kiyo adalah pembantu pada keluarga tersebut. Kiyo berbeda, dia menganggap Botchan berkebalikan. jika orang lain mencemooh Botcah, Kiyo sebaliknya memuji. dari Kiyolah si Botchan tumbuh dan berani bahwa saya bisa. Botchan sendiri sebenarnya bukan sebuah nama. Botchan adalah panggilan sayang penuh rasa hormat kepada anak kecil di Jepang, ya, mirip tuan muda, tapi kalau Botchan memiliki rasa, maksudku lebih dalam.

Sebelumnya aku baca madilog, Tan Malaka, kiriman seorang teman. Karena bentuknya soft jadi mataku sepet juga, baru halaman 13 sudah puyeng. Bahasanya sebenarnya enak dan lucu, kadang aku tertawa dan menangis membaca pendahuluan madilog itu, ya, karena halaman 13 itu baru selesai pendahuluan dan pustaka. Pustaka yang maksudnya berbasa-basi karena tidak bisa mencantumkan referensi, semua buku acuannya telah hilang. Hilang di perjalanan menyamar menyembunyikan diri. Dia pun hanya mengapal dengan bantuan jembatan keledai tapi, yah, ingatan manusia terbatas.

Sedih sekali mengetahui keadaan seperti apa waktu ia melahirkan madilog. Dibandingkan dengan aku sekarang:sangat jauh berbeda. Dulu mana ada waktu untuk sekedar mengagumi keelokan alam dan kecantikan wanita atau ketampanan seorang laki-laki. Seharusnya untuk satu ini aku dan semua yang hidup di zaman ini patut bersyukur, bagaimana tidak, kita hidup di alam yang begitu indah, kita juga bisa melihat wajah setampan Lee Min Ho
, atau secantik Breatney Spears,kita juga kenyang dengan makanan yang beraneka rupa lagi enak itu, coba apa lagi? mengenai ini aku berfikir, mungkin kebahagiaannya akan berbeda. Berbeda ketika orang melahirkan madilog dan bahagianya orang yang melihat betapa eloknya pemandangan atau kesenangan hari ini. Ya, kurasa sangat berbeda kadar kebahagiaannya. Jadi jika disuruh memilih, aku lebih suka bahagia ala madilog daripada bahagia yang kudapat hari ini.


Tunggulah, tunggulah sampai aku selesai menuliskan apa yang mau kutulis. Tapi, aku sangat ingin membereskan Botchan ini. Rasanya aku akan berhentu dulu menulis, semoga akan tetap enak untuk dibaca walaupun ya, meloncat-loncat, tapi itulah...

1 komentar: